Selasa, 22 Desember 2009

hidup untuk memilih

Sore hari seperti biasa, wahyu masih tidak bosan mengurusi ayamnya. tidak seperti sebayanya yang tengah menikmati libur semester, ia kini memiliki tanggung jawab baru, yang nantinya akan mengisi sela-sela waktunya sehabis pulang sekolah.
yap,meskipun ia sangat senang dengan ayam, namun pekerjaan barunya ini bukanlah yang dia harapkan. ia tidak pernah berpikir untuk mengurus ayam sebagaimana yang dilakukannya sekarang. hal ini dikarenakan ibunya terpaksa memilih jalan untuk "pensiun muda" di kantor tempatnya bekerja. ia sadar iklim kerja kini sangat tidak menentu, tentunya dengan mempertimbagkan segala resiko jalan inilah yang mesti dilakukannya.bagaimanapun ia mesti membantu orang tuanya untuk melanjutkan hidup. sukur ayahnya masih bekerja sampai saat itu, entah apa mungkin yang terjadi di kemudian hari ia tidak pernah mau tahu.. ia hanya akan berusaha untuk melakukan apa yang dia bisa lakukan saat itu.

ayam yang baru dibelinya 1 bulan yang lalu merupakan jenis ayam "arab" yang sering digunakan untuk membuat ayam taliwang, masakan khas daerahnya.
ayam yang nantinya dipelihara diharapkan akan bisa dipanen 4 bulan kemudian, karena memang pada umur tersebutlah dagingnya sangat cocok untuk dipanen.

ide untuk memulai usaha kecil2an tersebut sebenarnya merupakan ide dari ibunya. walau akan berhenti bekerja,ibunya sudah matang mempersiapkan bagaimana cara melanjutkan hidup setelahnya. ia memutuskan untuk beternak ayam. dengan modal uang pesangon, hanya cukup untuk membangun kandangnya saja. kandang dengan ukuran 4x8m itupun dibangun di pekarangan tanah warisan pernikahan orang tuanya tanpa menggaji tukang/kuli sekalipun. demi menghemat cost tentunya.
semua anngota keluarga dikerahkan, bahkan adik perempuannya tanpa disuruhpun ia selalu merengek ingin membantu. adiknya 4 tahun lebih muda dari wahyu. sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di sebuah smp swasta, yaang memerlukan biaya yang lebih tinggi dari sekolah negeri. wahyu masih beuntung, ia sekolah di sekolah negeri favorit di daerahnya.

berbekal dengan pengalaman sebagai tukang dahulunya, ayah wahyu masih dpat memprkatekkan kebolehannya. sebulan dihabiskan untuk membangun kandang beratap asbes sederhana..
tiang2nya kokoh sekokoh tekad mereka.atapnya teduh seperti kesederhanaannya.
bagi wahyu, tak ada alasan untuk menikmati libur lebaran sebelumnya selain "ngayah" membantu bapaknya. tak peduli ajakan teman2nya untuk pergi ke "gili" menghabiskan liburan..
namun ia memilih liburannya sendiri. mau bagaimana lagi, hanya itu yang harus dia ambil.

sekarang, dengan 300 ekor ayam asuhannya, wahyu harus pintar2 membagi waktu. pagi ia mesti mengantar ibunya ke kandang, dan adiknya ke sekolah. sepulangnya sekolah ia mesti menjemput mereka berdua lagi. seperti selayaknya menggunakan shift, ia bergantian menjaga "bayi2nya" sementara ibunya harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. pekerjaan "mengasuh" ayam bisa dibilang susah2 gampang.
apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini. disaat hari cerah ia hanya perlu membersihkan kotoran ayam dan memberi makan pagi siang dan sore,namun saat hujan ia mesti menutup seluruh dinding kandang dengan terpal dan menghidupkan lampu guna menjaga kehangatan kandang dan bila hujan berhenti ia mesti melepaskan terpal tersebut kembali agar sinar dapat masuk untuk menghindari kelebapan kandang.. bisa dibayangkan kalau hujan di malam hari, disaat malam harus melelapkankan tidurnya. oleh karena itu tak jarang ia bersama ibunya menginap untuk berjaga setiap malam..
ia tentunya tidak lupa dengan kewajiban nya untuk belajar. maka bapaknya pun membuatkan sebuah kamar kecil khusus untuk meletakkan buku2 pelajarannya agar disaat ada waktu ia bisa sembari belajar.
alhasil dengan kesibukannya itu, nilainya juga melorot, rankingnya anjlok..yah itulah risiko yang mesti diambil dan ia kehilangan kesempatan untuk mendapat beasiswa, walau ga seberapa.

ibunya menangis dlam hati, ia begitu merasa bersalah, seharusnya semua ini adalh tanggung jawabnya. ia tidak seharusnya melibatkan anaknya untuk urusan keuangan, ia hanya bertugas membuat anaknya sekolah dan menjadi orang. tapi hidup mesti memilih, semua mungkin tak selalu tepat dalam hidup. tapi hidup adalah sebuah pilihan.. melihat anaknya yang mau mengerti kondisi keluarga dan niat yang berangkat dari kesadaran sendiri, air mata itu berubah menjadi kebanggaan yang mendinginkan hati.. ia berjanji ini tidak akan berlangsung lama,sehingga wahyu tak perlu ikut camur mengurusi kebutuhan dapur. cukup sekolah dan belajar..







hidup adalah sebuah pilihan...
dan terkadang kita dipaksa untuk memilih apa yang kita tidak inginkan,
atau apa yang tidak kita perkirakan sebelumnya..

0 komentar:

Posting Komentar