humback whale
when i was young
belajar- kapros
Senin, 03 Oktober 2011
Rabu, 03 Agustus 2011
Senin, 25 Januari 2010
Rabu, 13 Januari 2010
sebuah pesan dari hujan..
di musim hujan seperti ini saat sebagian besar dari kita tidak mengharapkan turunnya hujan dengan alasan cucian tidak kering, tidak bisa beraktifitas, tidak bisa beli makan,jalanan becek,etc
namun sebagian kecil meminta hujan tetap diturunkan agar tidur menjadi nyenyak apalgi setelah tidak tidur nyenyak selama berhari2 gara2 uts TT...
dan pada akhirnya Tuhan memutuskan untuk menurunkan Hujan..sebagian besar tadi mencela2 hujan yang diberikanNYA..
tapi hujan itu membawakan sebuah pesan pada saya.
datangnya hujan tidak hanya memeberi kebaikan bagi yang mengharapkannya tetapi juga memberi kabaikan untuk yang tidak mengharapkannya sekalipun..
semua orang nantinya akan mendapatkan kebaikan dari hujan itu sendiri..semua akan tepat pada waktunya..
namun selama itu bertentangan dengan kemauannya, manusia selalu menghujat2 itu..ia tidak sadar kebaikan yang akan diterimanya nanti..ia hanya belum sadar semua akan tepat pada waktunya..
seperti halnya Tuhan, manusia selalu dilingkupi oleh dilema etis dalam setiap keputusan yang akan diambil untuk hidupnya entah masalah pekerjaan, karir, sekolah, teman, bahkan asmara sekalipun..
dalam situasi yang memerlukan pemikiran rumit dalam memecahkan problema etis seperti saat ini, bisakah manusia itu berpikir layaknya Tuhan yang selalu mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan dirinya??
ada kalanya kita malah mencerca orang yang sebenarnya telah mengambil keputusan yang tepat dan dapat mengakomodasi kebaikan semua semata-mata karena bertentangan dengan sistem,norma hukum dan sebagainya..atau terlebih lagi karena itu bertentangan dengan kemauan kita..
saya sadar sistem, norma tadi letaknya "selalu" dibelakang nilai2 moral kebaikan yang sebenarnya kita butuhkan sekarang..
sayangnya kita harus menegakkan dan menjunjung tiggi norma atau aturan tersebut. karena itu adalah kesepakatan bersama yang dibuat sebelumya..
tidak salah juga..
namun apa point pentingnya??bukankah norma itu disusun untuk kebaikan bersama??
manakah yang lebih baik, mengambil keputusan yang bertentangan dengan norma namun baik demi kepentingan bersama atau sejalan norma namun tak mengakomodasi kebaikan nantinya..??
Tuhan, saya ingin tahu jalan pikiranMu..sangat sangat ingin tahu..
Selamat Ciwaratri..damai di hati, dunia, selalu..
(terima kasih hujan)
namun sebagian kecil meminta hujan tetap diturunkan agar tidur menjadi nyenyak apalgi setelah tidak tidur nyenyak selama berhari2 gara2 uts TT...
dan pada akhirnya Tuhan memutuskan untuk menurunkan Hujan..sebagian besar tadi mencela2 hujan yang diberikanNYA..
tapi hujan itu membawakan sebuah pesan pada saya.
datangnya hujan tidak hanya memeberi kebaikan bagi yang mengharapkannya tetapi juga memberi kabaikan untuk yang tidak mengharapkannya sekalipun..
semua orang nantinya akan mendapatkan kebaikan dari hujan itu sendiri..semua akan tepat pada waktunya..
namun selama itu bertentangan dengan kemauannya, manusia selalu menghujat2 itu..ia tidak sadar kebaikan yang akan diterimanya nanti..ia hanya belum sadar semua akan tepat pada waktunya..
seperti halnya Tuhan, manusia selalu dilingkupi oleh dilema etis dalam setiap keputusan yang akan diambil untuk hidupnya entah masalah pekerjaan, karir, sekolah, teman, bahkan asmara sekalipun..
dalam situasi yang memerlukan pemikiran rumit dalam memecahkan problema etis seperti saat ini, bisakah manusia itu berpikir layaknya Tuhan yang selalu mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan dirinya??
ada kalanya kita malah mencerca orang yang sebenarnya telah mengambil keputusan yang tepat dan dapat mengakomodasi kebaikan semua semata-mata karena bertentangan dengan sistem,norma hukum dan sebagainya..atau terlebih lagi karena itu bertentangan dengan kemauan kita..
saya sadar sistem, norma tadi letaknya "selalu" dibelakang nilai2 moral kebaikan yang sebenarnya kita butuhkan sekarang..
sayangnya kita harus menegakkan dan menjunjung tiggi norma atau aturan tersebut. karena itu adalah kesepakatan bersama yang dibuat sebelumya..
tidak salah juga..
namun apa point pentingnya??bukankah norma itu disusun untuk kebaikan bersama??
manakah yang lebih baik, mengambil keputusan yang bertentangan dengan norma namun baik demi kepentingan bersama atau sejalan norma namun tak mengakomodasi kebaikan nantinya..??
Tuhan, saya ingin tahu jalan pikiranMu..sangat sangat ingin tahu..
Selamat Ciwaratri..damai di hati, dunia, selalu..
(terima kasih hujan)
Rabu, 30 Desember 2009
selamat tahun baru 2010
Tiba saatnya untuk menggulung kembali kalender lama,,dan membuka lembaran baru untuk kehidupan yang baru..
Dan sampailah kita pada suatu titik, dimana kita harus berkata "saya harus lebih baik dari sebelumnya dan akan semakin baik untuk seterusnya.."
Selamat Tahun Baru 2010
wish all love peace and humanity 4 better life..
4 better future...
graffi_G!E
Kamis, 24 Desember 2009
Selasa, 22 Desember 2009
hidup untuk memilih
Sore hari seperti biasa, wahyu masih tidak bosan mengurusi ayamnya. tidak seperti sebayanya yang tengah menikmati libur semester, ia kini memiliki tanggung jawab baru, yang nantinya akan mengisi sela-sela waktunya sehabis pulang sekolah.
yap,meskipun ia sangat senang dengan ayam, namun pekerjaan barunya ini bukanlah yang dia harapkan. ia tidak pernah berpikir untuk mengurus ayam sebagaimana yang dilakukannya sekarang. hal ini dikarenakan ibunya terpaksa memilih jalan untuk "pensiun muda" di kantor tempatnya bekerja. ia sadar iklim kerja kini sangat tidak menentu, tentunya dengan mempertimbagkan segala resiko jalan inilah yang mesti dilakukannya.bagaimanapun ia mesti membantu orang tuanya untuk melanjutkan hidup. sukur ayahnya masih bekerja sampai saat itu, entah apa mungkin yang terjadi di kemudian hari ia tidak pernah mau tahu.. ia hanya akan berusaha untuk melakukan apa yang dia bisa lakukan saat itu.
ayam yang baru dibelinya 1 bulan yang lalu merupakan jenis ayam "arab" yang sering digunakan untuk membuat ayam taliwang, masakan khas daerahnya.
ayam yang nantinya dipelihara diharapkan akan bisa dipanen 4 bulan kemudian, karena memang pada umur tersebutlah dagingnya sangat cocok untuk dipanen.
ide untuk memulai usaha kecil2an tersebut sebenarnya merupakan ide dari ibunya. walau akan berhenti bekerja,ibunya sudah matang mempersiapkan bagaimana cara melanjutkan hidup setelahnya. ia memutuskan untuk beternak ayam. dengan modal uang pesangon, hanya cukup untuk membangun kandangnya saja. kandang dengan ukuran 4x8m itupun dibangun di pekarangan tanah warisan pernikahan orang tuanya tanpa menggaji tukang/kuli sekalipun. demi menghemat cost tentunya.
semua anngota keluarga dikerahkan, bahkan adik perempuannya tanpa disuruhpun ia selalu merengek ingin membantu. adiknya 4 tahun lebih muda dari wahyu. sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di sebuah smp swasta, yaang memerlukan biaya yang lebih tinggi dari sekolah negeri. wahyu masih beuntung, ia sekolah di sekolah negeri favorit di daerahnya.
berbekal dengan pengalaman sebagai tukang dahulunya, ayah wahyu masih dpat memprkatekkan kebolehannya. sebulan dihabiskan untuk membangun kandang beratap asbes sederhana..
tiang2nya kokoh sekokoh tekad mereka.atapnya teduh seperti kesederhanaannya.
bagi wahyu, tak ada alasan untuk menikmati libur lebaran sebelumnya selain "ngayah" membantu bapaknya. tak peduli ajakan teman2nya untuk pergi ke "gili" menghabiskan liburan..
namun ia memilih liburannya sendiri. mau bagaimana lagi, hanya itu yang harus dia ambil.
sekarang, dengan 300 ekor ayam asuhannya, wahyu harus pintar2 membagi waktu. pagi ia mesti mengantar ibunya ke kandang, dan adiknya ke sekolah. sepulangnya sekolah ia mesti menjemput mereka berdua lagi. seperti selayaknya menggunakan shift, ia bergantian menjaga "bayi2nya" sementara ibunya harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. pekerjaan "mengasuh" ayam bisa dibilang susah2 gampang.
apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini. disaat hari cerah ia hanya perlu membersihkan kotoran ayam dan memberi makan pagi siang dan sore,namun saat hujan ia mesti menutup seluruh dinding kandang dengan terpal dan menghidupkan lampu guna menjaga kehangatan kandang dan bila hujan berhenti ia mesti melepaskan terpal tersebut kembali agar sinar dapat masuk untuk menghindari kelebapan kandang.. bisa dibayangkan kalau hujan di malam hari, disaat malam harus melelapkankan tidurnya. oleh karena itu tak jarang ia bersama ibunya menginap untuk berjaga setiap malam..
ia tentunya tidak lupa dengan kewajiban nya untuk belajar. maka bapaknya pun membuatkan sebuah kamar kecil khusus untuk meletakkan buku2 pelajarannya agar disaat ada waktu ia bisa sembari belajar.
alhasil dengan kesibukannya itu, nilainya juga melorot, rankingnya anjlok..yah itulah risiko yang mesti diambil dan ia kehilangan kesempatan untuk mendapat beasiswa, walau ga seberapa.
ibunya menangis dlam hati, ia begitu merasa bersalah, seharusnya semua ini adalh tanggung jawabnya. ia tidak seharusnya melibatkan anaknya untuk urusan keuangan, ia hanya bertugas membuat anaknya sekolah dan menjadi orang. tapi hidup mesti memilih, semua mungkin tak selalu tepat dalam hidup. tapi hidup adalah sebuah pilihan.. melihat anaknya yang mau mengerti kondisi keluarga dan niat yang berangkat dari kesadaran sendiri, air mata itu berubah menjadi kebanggaan yang mendinginkan hati.. ia berjanji ini tidak akan berlangsung lama,sehingga wahyu tak perlu ikut camur mengurusi kebutuhan dapur. cukup sekolah dan belajar..
yap,meskipun ia sangat senang dengan ayam, namun pekerjaan barunya ini bukanlah yang dia harapkan. ia tidak pernah berpikir untuk mengurus ayam sebagaimana yang dilakukannya sekarang. hal ini dikarenakan ibunya terpaksa memilih jalan untuk "pensiun muda" di kantor tempatnya bekerja. ia sadar iklim kerja kini sangat tidak menentu, tentunya dengan mempertimbagkan segala resiko jalan inilah yang mesti dilakukannya.bagaimanapun ia mesti membantu orang tuanya untuk melanjutkan hidup. sukur ayahnya masih bekerja sampai saat itu, entah apa mungkin yang terjadi di kemudian hari ia tidak pernah mau tahu.. ia hanya akan berusaha untuk melakukan apa yang dia bisa lakukan saat itu.
ayam yang baru dibelinya 1 bulan yang lalu merupakan jenis ayam "arab" yang sering digunakan untuk membuat ayam taliwang, masakan khas daerahnya.
ayam yang nantinya dipelihara diharapkan akan bisa dipanen 4 bulan kemudian, karena memang pada umur tersebutlah dagingnya sangat cocok untuk dipanen.
ide untuk memulai usaha kecil2an tersebut sebenarnya merupakan ide dari ibunya. walau akan berhenti bekerja,ibunya sudah matang mempersiapkan bagaimana cara melanjutkan hidup setelahnya. ia memutuskan untuk beternak ayam. dengan modal uang pesangon, hanya cukup untuk membangun kandangnya saja. kandang dengan ukuran 4x8m itupun dibangun di pekarangan tanah warisan pernikahan orang tuanya tanpa menggaji tukang/kuli sekalipun. demi menghemat cost tentunya.
semua anngota keluarga dikerahkan, bahkan adik perempuannya tanpa disuruhpun ia selalu merengek ingin membantu. adiknya 4 tahun lebih muda dari wahyu. sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di sebuah smp swasta, yaang memerlukan biaya yang lebih tinggi dari sekolah negeri. wahyu masih beuntung, ia sekolah di sekolah negeri favorit di daerahnya.
berbekal dengan pengalaman sebagai tukang dahulunya, ayah wahyu masih dpat memprkatekkan kebolehannya. sebulan dihabiskan untuk membangun kandang beratap asbes sederhana..
tiang2nya kokoh sekokoh tekad mereka.atapnya teduh seperti kesederhanaannya.
bagi wahyu, tak ada alasan untuk menikmati libur lebaran sebelumnya selain "ngayah" membantu bapaknya. tak peduli ajakan teman2nya untuk pergi ke "gili" menghabiskan liburan..
namun ia memilih liburannya sendiri. mau bagaimana lagi, hanya itu yang harus dia ambil.
sekarang, dengan 300 ekor ayam asuhannya, wahyu harus pintar2 membagi waktu. pagi ia mesti mengantar ibunya ke kandang, dan adiknya ke sekolah. sepulangnya sekolah ia mesti menjemput mereka berdua lagi. seperti selayaknya menggunakan shift, ia bergantian menjaga "bayi2nya" sementara ibunya harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. pekerjaan "mengasuh" ayam bisa dibilang susah2 gampang.
apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini. disaat hari cerah ia hanya perlu membersihkan kotoran ayam dan memberi makan pagi siang dan sore,namun saat hujan ia mesti menutup seluruh dinding kandang dengan terpal dan menghidupkan lampu guna menjaga kehangatan kandang dan bila hujan berhenti ia mesti melepaskan terpal tersebut kembali agar sinar dapat masuk untuk menghindari kelebapan kandang.. bisa dibayangkan kalau hujan di malam hari, disaat malam harus melelapkankan tidurnya. oleh karena itu tak jarang ia bersama ibunya menginap untuk berjaga setiap malam..
ia tentunya tidak lupa dengan kewajiban nya untuk belajar. maka bapaknya pun membuatkan sebuah kamar kecil khusus untuk meletakkan buku2 pelajarannya agar disaat ada waktu ia bisa sembari belajar.
alhasil dengan kesibukannya itu, nilainya juga melorot, rankingnya anjlok..yah itulah risiko yang mesti diambil dan ia kehilangan kesempatan untuk mendapat beasiswa, walau ga seberapa.
ibunya menangis dlam hati, ia begitu merasa bersalah, seharusnya semua ini adalh tanggung jawabnya. ia tidak seharusnya melibatkan anaknya untuk urusan keuangan, ia hanya bertugas membuat anaknya sekolah dan menjadi orang. tapi hidup mesti memilih, semua mungkin tak selalu tepat dalam hidup. tapi hidup adalah sebuah pilihan.. melihat anaknya yang mau mengerti kondisi keluarga dan niat yang berangkat dari kesadaran sendiri, air mata itu berubah menjadi kebanggaan yang mendinginkan hati.. ia berjanji ini tidak akan berlangsung lama,sehingga wahyu tak perlu ikut camur mengurusi kebutuhan dapur. cukup sekolah dan belajar..
hidup adalah sebuah pilihan...
dan terkadang kita dipaksa untuk memilih apa yang kita tidak inginkan,
atau apa yang tidak kita perkirakan sebelumnya..
Langganan:
Komentar (Atom)









