Rabu, 30 Desember 2009
selamat tahun baru 2010
Tiba saatnya untuk menggulung kembali kalender lama,,dan membuka lembaran baru untuk kehidupan yang baru..
Kamis, 24 Desember 2009
Selasa, 22 Desember 2009
hidup untuk memilih
yap,meskipun ia sangat senang dengan ayam, namun pekerjaan barunya ini bukanlah yang dia harapkan. ia tidak pernah berpikir untuk mengurus ayam sebagaimana yang dilakukannya sekarang. hal ini dikarenakan ibunya terpaksa memilih jalan untuk "pensiun muda" di kantor tempatnya bekerja. ia sadar iklim kerja kini sangat tidak menentu, tentunya dengan mempertimbagkan segala resiko jalan inilah yang mesti dilakukannya.bagaimanapun ia mesti membantu orang tuanya untuk melanjutkan hidup. sukur ayahnya masih bekerja sampai saat itu, entah apa mungkin yang terjadi di kemudian hari ia tidak pernah mau tahu.. ia hanya akan berusaha untuk melakukan apa yang dia bisa lakukan saat itu.
ayam yang baru dibelinya 1 bulan yang lalu merupakan jenis ayam "arab" yang sering digunakan untuk membuat ayam taliwang, masakan khas daerahnya.
ayam yang nantinya dipelihara diharapkan akan bisa dipanen 4 bulan kemudian, karena memang pada umur tersebutlah dagingnya sangat cocok untuk dipanen.
ide untuk memulai usaha kecil2an tersebut sebenarnya merupakan ide dari ibunya. walau akan berhenti bekerja,ibunya sudah matang mempersiapkan bagaimana cara melanjutkan hidup setelahnya. ia memutuskan untuk beternak ayam. dengan modal uang pesangon, hanya cukup untuk membangun kandangnya saja. kandang dengan ukuran 4x8m itupun dibangun di pekarangan tanah warisan pernikahan orang tuanya tanpa menggaji tukang/kuli sekalipun. demi menghemat cost tentunya.
semua anngota keluarga dikerahkan, bahkan adik perempuannya tanpa disuruhpun ia selalu merengek ingin membantu. adiknya 4 tahun lebih muda dari wahyu. sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di sebuah smp swasta, yaang memerlukan biaya yang lebih tinggi dari sekolah negeri. wahyu masih beuntung, ia sekolah di sekolah negeri favorit di daerahnya.
berbekal dengan pengalaman sebagai tukang dahulunya, ayah wahyu masih dpat memprkatekkan kebolehannya. sebulan dihabiskan untuk membangun kandang beratap asbes sederhana..
tiang2nya kokoh sekokoh tekad mereka.atapnya teduh seperti kesederhanaannya.
bagi wahyu, tak ada alasan untuk menikmati libur lebaran sebelumnya selain "ngayah" membantu bapaknya. tak peduli ajakan teman2nya untuk pergi ke "gili" menghabiskan liburan..
namun ia memilih liburannya sendiri. mau bagaimana lagi, hanya itu yang harus dia ambil.
sekarang, dengan 300 ekor ayam asuhannya, wahyu harus pintar2 membagi waktu. pagi ia mesti mengantar ibunya ke kandang, dan adiknya ke sekolah. sepulangnya sekolah ia mesti menjemput mereka berdua lagi. seperti selayaknya menggunakan shift, ia bergantian menjaga "bayi2nya" sementara ibunya harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. pekerjaan "mengasuh" ayam bisa dibilang susah2 gampang.
apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini. disaat hari cerah ia hanya perlu membersihkan kotoran ayam dan memberi makan pagi siang dan sore,namun saat hujan ia mesti menutup seluruh dinding kandang dengan terpal dan menghidupkan lampu guna menjaga kehangatan kandang dan bila hujan berhenti ia mesti melepaskan terpal tersebut kembali agar sinar dapat masuk untuk menghindari kelebapan kandang.. bisa dibayangkan kalau hujan di malam hari, disaat malam harus melelapkankan tidurnya. oleh karena itu tak jarang ia bersama ibunya menginap untuk berjaga setiap malam..
ia tentunya tidak lupa dengan kewajiban nya untuk belajar. maka bapaknya pun membuatkan sebuah kamar kecil khusus untuk meletakkan buku2 pelajarannya agar disaat ada waktu ia bisa sembari belajar.
alhasil dengan kesibukannya itu, nilainya juga melorot, rankingnya anjlok..yah itulah risiko yang mesti diambil dan ia kehilangan kesempatan untuk mendapat beasiswa, walau ga seberapa.
ibunya menangis dlam hati, ia begitu merasa bersalah, seharusnya semua ini adalh tanggung jawabnya. ia tidak seharusnya melibatkan anaknya untuk urusan keuangan, ia hanya bertugas membuat anaknya sekolah dan menjadi orang. tapi hidup mesti memilih, semua mungkin tak selalu tepat dalam hidup. tapi hidup adalah sebuah pilihan.. melihat anaknya yang mau mengerti kondisi keluarga dan niat yang berangkat dari kesadaran sendiri, air mata itu berubah menjadi kebanggaan yang mendinginkan hati.. ia berjanji ini tidak akan berlangsung lama,sehingga wahyu tak perlu ikut camur mengurusi kebutuhan dapur. cukup sekolah dan belajar..
hidup adalah sebuah pilihan...
dan terkadang kita dipaksa untuk memilih apa yang kita tidak inginkan,
atau apa yang tidak kita perkirakan sebelumnya..
Jumat, 18 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
tokoh yang paling dikagumi
jawabku : "DIRI SAYA SENDIRI pak.."
Beliau tersentak kaget penuh tanya.. "Mengapa kamu jawab dirimu??"
jawabku : " Karena saya bisa menjadi semua tokoh yang bapak sebutkan barusan, bahkan bisa lebih dari mereka ".
Guruku tersenyum, kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Kini aku sangat bangga. Bukan atas jawabanku,melainkan atas guruku dan pertanyaannya.
Karena pertanyaan beliau membuat semua anak didiknya "bangga menjadi diri sendiri.."
^^,
Cerita Pasir
Minggu, 13 Desember 2009
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.
dikutip dari : sabda langit
Search Engine Submission - AddMe
Bagi orang Jakarta, Jawa = remote area yang tertinggal jauh dari modernisasi.
Kejawen = agama purba, Shirk yang harus ditaubatkan.
Semua sudah lupa akan akarnya, akan tempat dimana kakinya berpijak, akan udara yang dihirupnya.
Malukah mengakui akarnya?
dikutip dari komen Abdul Hasan
semua tentang melayani dan dilayani

kemanakah pejuang sejati yang rindu akan ketentraman..
lagi dengan penuh tanggung jawab kau perlihatkan kerjamu kerja yang tak ada habisnya membantu sesama..
kerja tanpa pamrih yang tak seorang pun dapat menyamainya, tanpa cacat sempurna bahkan dewapun tunduk padanya..
kemana lagi aku temukan mata air yang mentirami tubuh2 kami yang haus akan kemanjaanmu, haus karena ketidak pedulian kami..
hidup kami adalah hidupmu, kau adalah hidup kami bahkan saat kau tak ada, jasa2mu hingga kini melekat dalam sanubari,
sepeninggalmu banyak yang aku ingin lukiskan pada mereka, bahwa kau pernah hidup dalam hidup mereka..
untuk sekedar mangingatkan mereka..
tuntunlah aku yang ada dalam garismu, berikan aku sebuah jalan yang berbeda, agar aku dapat menyadarkan dunia akan sebuah usaha tiada henti untuk sesama..
bahwa hidup adalah melayani dan dilayani..
G!E
Jumat, 11 Desember 2009
ceritaku: 3H Goes To Do Fun (Dufan)
hijau muda daun2 seolah2 berbicara dengan burung2..
membawa harapan bahwa hujan ga akan menyelimuti bumi ini sehari ini..
tampak dengan jelas embun2 sisa hujan sebelumnya menempel di tepi dedaunan..
memberi denting merdu ketika menetes dengan genangan air di bawahnya..
menambah semangat perjalananku hari ini..perjalanan yang akan menyulam sebuah keluarga baru..

foto menjelang keberangkatan, pagi yang begitu cerah


saat berada di wahana busway matraman (ngantri setengah mati)

korban iseng2 nungguin bus di matraman (baca: mataram)

sesampainya di sana (Do Fun)

sesaat setelah mendapat tiket masuk

sok tajir, buang tiket ke tong sampah..
setelah adegantersebut, si pelaku rela masuk ke tong buat ngambil tuh tiket..:p
2 jam menanti untu 2 menit beraksi (tornado zone)

sofi menjerit kegirangan + ketakutan sesaat akan menikmati wahana tornado (efek ngantri 2 jam)
penantian yang panjang terbayarkan sudah (tornado zone)

menunggu wahana ombang2

dalam penantian mengantri

"sang pelaku" kelelahan dikarenakan kebanyakan ngantri, pdhal blum satupun wahana yang dinikmati (hoho ^^o)
by: G!E
Search Engine Submission - AddMe








